PADANG, -Sumatera Barat genap berusia 81 tahun. Momentum tersebut tidak sekadar menjadi perayaan perjalanan sejarah, tetapi juga menjadi ruang untuk melihat kembali capaian pembangunan sekaligus membaca tantangan yang akan dihadapi daerah ke depan.
Pesan itu mengemuka dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi Sumatera Barat dalam rangka Hari Jadi Sumatera Barat ke-81, Kamis (1/10). Forum tersebut mempertemukan unsur legislatif, eksekutif, pemerintah pusat, tokoh nasional hingga berbagai elemen masyarakat.
Hadir dalam rapat paripurna tersebut Wakil Menteri Dalam Negeri RI Dr. H. Bima Arya Sugiarto, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi, serta Presiden Senat Malaysia periode 2020–2023 Tan Sri Dato’ Seri Panglima Dr. Rais Yatim melalui Zoom Meeting.
Turut hadir unsur Forkopimda Sumbar, anggota DPR dan DPD RI daerah pemilihan Sumatera Barat, pimpinan dan anggota DPRD Sumbar, Sekda Sumbar, bupati dan wali kota, pimpinan instansi vertikal, BUMN dan BUMD, perguruan tinggi, organisasi keagamaan serta tokoh masyarakat.
Di hadapan peserta rapat paripurna, Ketua DPRD Sumbar Muhidi menegaskan, usia 81 tahun harus dimaknai lebih dari sekadar pertambahan usia daerah.
Menurutnya, Hari Jadi Sumbar menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan pembangunan, melihat berbagai capaian yang telah diraih, sekaligus memastikan arah pembangunan ke depan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Kita tidak hanya mengenang perjalanan masa lalu, tetapi juga memikirkan apa yang akan kita wariskan kepada generasi berikutnya,” kata Muhidi.
Ia menyebut Sumatera Barat telah melewati berbagai ujian. Gempa bumi 2009, pandemi Covid-19 hingga bencana hidrometeorologi menjadi pengalaman yang membentuk ketangguhan masyarakat sekaligus memberikan pelajaran bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan.
Pembangunan, kata Muhidi, juga harus mampu menciptakan masyarakat yang siap menghadapi perubahan dan memiliki kemampuan untuk bangkit ketika menghadapi krisis.
Dari sisi pembangunan manusia, Sumbar mencatat sejumlah indikator positif. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 77,27, tingkat kemiskinan pada Maret 2026 berada di angka 5,27 persen, sementara Indeks Gini tercatat 0,285.
Namun, angka-angka tersebut menurut Muhidi harus terus diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas hidup yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Karena itu, pendidikan dan penguatan generasi muda menjadi salah satu perhatian penting. Keterampilan, kreativitas dan inovasi perlu diperluas agar anak-anak muda Sumbar memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Hal serupa berlaku bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Muhidi mendorong UMKM tidak berhenti pada aktivitas produksi dan perdagangan konvensional, tetapi terus didorong naik kelas melalui peningkatan pengetahuan, pemanfaatan teknologi, akses pembiayaan, perluasan pasar, digitalisasi serta pendampingan yang berkelanjutan.
“UMKM harus kita dorong agar semakin kuat, bukan hanya bertahan. Mereka harus memiliki akses terhadap teknologi, pembiayaan dan pasar sehingga mampu berkembang dan menciptakan lapangan kerja,” ujarnya.
Budaya dan Ketangguhan Bencana
Di tengah derasnya perubahan teknologi dan globalisasi, Muhidi juga mengingatkan pentingnya menjaga identitas budaya Minangkabau.
Nilai Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK), menurutnya, tidak boleh kehilangan tempat dalam kehidupan masyarakat Sumatera Barat.
Kemajuan teknologi dan modernisasi harus berjalan seiring dengan penguatan nilai budaya dan karakter generasi muda.

