PADANG, -Menyiapkan generasi muda menghadapi Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dengan memperluas pembangunan fisik. Kualitas sumber daya manusia (SDM), kemampuan literasi, serta kesempatan mengembangkan potensi diri harus menjadi perhatian utama pemerintah.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua DPRD Sumatera Barat (Sumbar), Muhidi, saat memberikan motivasi kepada hampir 100 siswa SMA dalam Pelatihan Literasi Tingkat SMA di Hotel Pangeran City, Kota Padang, Selasa (3/11).
Menariknya, pembahasan mengenai masa depan generasi muda itu berkembang ketika seorang siswa mengajukan pertanyaan tentang program yang akan dilakukan Muhidi jika suatu saat mendapat kesempatan memimpin Kota Padang.
Siswa tersebut ingin mengetahui sejauh mana komitmen Muhidi membangun generasi muda dan membuka akses literasi yang merata bagi seluruh anak muda.
Pertanyaan itu mendapat perhatian peserta. Muhidi pun sempat tersenyum sebelum menjelaskan bahwa pembangunan manusia merupakan salah satu hal yang ingin menjadi prioritasnya.
Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut, pembangunan daerah tidak boleh hanya diukur dari kemajuan infrastruktur. Kualitas manusia yang mampu berpikir, berinovasi, dan mandiri secara ekonomi juga menjadi ukuran penting keberhasilan pembangunan.
“Bukan berarti pembangunan fisik diabaikan. Penggerak ekonomi lokal dan UMKM juga harus bergerak. Namun, perhatian utama saya lebih kepada pembangunan manusianya,” ujar Muhidi.
Ia menilai, perhatian terhadap SDM semakin penting karena Indonesia sedang menuju momentum satu abad kemerdekaan pada 2045. Dalam periode tersebut, generasi muda saat ini akan menjadi bagian penting dari penentu arah kemajuan bangsa.
Generasi Z, milenial, dan generasi setelahnya memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan pembangunan. Namun, potensi tersebut tidak akan otomatis menjadi keunggulan apabila tidak diiringi pendidikan, budaya literasi, dan peningkatan kapasitas diri.
Karena itu, Muhidi mengingatkan pentingnya mempersiapkan generasi muda sejak sekarang. Bonus demografi harus diikuti kualitas manusia yang memadai agar menjadi peluang, bukan justru menjadi persoalan baru bagi bangsa.
“Ini momentum penting. Dua puluh tahun ke depan sangat menentukan ketika Indonesia memasuki usia 100 tahun. Generasi muda harus dipersiapkan dengan baik. Jangan sampai bonus demografi yang kita miliki tidak mampu dimanfaatkan karena kualitas sumber daya manusianya belum siap,” tegasnya.

