PADANG — Mengawali Safari Ramadan 1447 Hijriah, Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat Muhidi mengunjungi Masjid Nurul Yaqin, Kelurahan Gurun Laweh, Kota Padang, Kamis (19/2).

Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya kebersamaan sebagai kekuatan untuk keluar dari berbagai persoalan daerah, khususnya banjir dan longsor.
Muhidi mengatakan Ramadan menjadi momentum untuk membangun kualitas diri sekaligus memperkuat karakter masyarakat. Ia mengingatkan nilai falsafah Minangkabau Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sebagai landasan dalam memperkuat keimanan dan kepedulian sosial.
Menurutnya, bulan Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk mempererat silaturahmi, saling menghargai, serta meningkatkan kepedulian kepada sesama, terutama membantu masyarakat yang kurang mampu karena nilai ibadahnya sangat besar.
Ia berharap latihan spiritual selama sebulan penuh dapat membentuk karakter masyarakat yang peduli terhadap lingkungan, berakhlak mulia, berpikir positif terhadap situasi yang dihadapi, serta memiliki kecerdasan spiritual.
Muhidi juga menjelaskan kebersamaan harus diwujudkan melalui kolaborasi di tengah masyarakat yang memiliki kemampuan berbeda-beda. Menurutnya, ada masyarakat yang memiliki kemampuan intelektual dan keterampilan, namun terbatas dari sisi permodalan, sehingga dengan kebersamaan dapat tercipta kerja sama yang saling menguntungkan.
Ia menambahkan kolaborasi tersebut dapat mendorong pertumbuhan usaha, membuka lapangan pekerjaan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena setiap pihak saling melengkapi.
“Dengan kebersamaan, potensi yang berbeda bisa disatukan menjadi kekuatan. Yang memiliki modal bisa mengembangkan usaha, sementara yang memiliki kemampuan bisa bekerja dan berkarya sehingga saling menguntungkan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Muhidi juga menyerahkan bantuan pembangunan masjid sebesar Rp50 juta untuk mendukung perbaikan sarana ibadah bagi masyarakat setempat, Bank Nagari juga memberikan sebesar Rp 5 juta.
Sementara itu, pengurus Masjid Nurul Yaqin Doni mengatakan masjid tersebut merupakan salah satu yang mengalami dampak paling parah saat banjir melanda kawasan Gurun Laweh. Ketinggian air bahkan mencapai sekitar satu meter hingga merendam sebagian besar area masjid.
Ia menjelaskan berkat semangat gotong royong masyarakat, masjid kini sudah dapat kembali digunakan untuk beribadah, meskipun masih terdapat sejumlah fasilitas yang membutuhkan perbaikan.
Menurutnya, fasilitas tempat wuduk menjadi salah satu bagian yang masih memerlukan perhatian dan perbaikan agar jamaah dapat beribadah dengan lebih nyaman.

